DOA

Tampilkan postingan dengan label KAJIAN ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAJIAN ISLAM. Tampilkan semua postingan

SEJARAH BULAN MUHARRAM

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (Maksudnya ialah: bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri (Maksudnya janganlah kamu menganiaya dirimu dengan mengerjakan perbuatan yang dilarang, seperti melanggar kehormatan bulan itu dengan mengadakan peperangan) kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al Taubah: 36)

PENENTUAN AWAL RAMADHAN 1435 H


Kalendar Islam merupakan kalendar Bulan atau kalendar Qamariah murni. Pada zaman Rasullah pengamatan hilal merupakan cara penentuan awal Bulan Islam dan sekaligus merupakan sumber nilai awal “kriteria yang perlu dirujuk” dalam merekonstruksi sebuah kalendar Islam.
Awalnya kalendar Hijriah umat Islam mempergunakan hisab Urfi yang dikenalkan oleh Khalifah Umar bin Khaththab (17 H or 639 CE). Hisab Urfi merupakan tahapan yang perlu dilalui dan menjadi pelajaran bagi umat Islam, karena ibadah Ramadan dan ibadah Haji merupakan kewajiban ibadah yang tidak bisa menunggu sosok kalendar Islam yang “sempurna”. Awal Bulan tidak lagi ditentukan lewat rukyat maupun hisab hakiki (menghitung langsung posisi Bulan dan Matahari).

PERTANYAAN ANAK KEPADA ORANG TUA TENTANG "TUHAN"



Anak kecil pada umur sekitar 3 – 5 tahunan,  biasanya suka keluar pertanyaan-pertanyaan yang bisa dibilang ajaib dan spontan, tapi polos ! Nah sanking polosnya, terkadang orang tua yang kelabakan mendengar pertanyaan anaknya, biasanya cari aman saja, dengan menjawab seenaknya saja.
Weitssss saat sebuah jawaban terlontar dari seorang ibu ataupun bapak, disitulah mindset sang anak tertanam. Hati-hati kalau menjawab pertanyaan anak kecil. Apalagi kalau pertanyaannya tentang Tuhan.

HALAL BIHALAL di HARI YANG FITRI




Halal bihalal, 
Dua kata berangkai yang sering diucapkan dalam suasana Idul Fitri, adalah satu dari istilah-istilah “keagamaan” yang hanya dikenal oleh masyarakat Indonesia. Istilah tersebut seringkali menimbulkan tanda tanya tentang maknanya, bahkan kebenaranya dalam segi bahasa, walaupun semua pihak menyadari tujuannya adalah menciptakan keharmonisan antara sesama.

Hemat saya paling tidak ada dua makna yang dapat dikemukakan menyangkut pengertian istilah tersebut, yang ditinjau dari dua pandangan. Yaitu pertama, bertitik tolak dari pandangan hukum Islam dan kedua berpijak pada arti kebahasaan.

AHLI RUKYAH, SO............PASTI AHLI HISAB




“Orang selalu salah paham terhadap NU yang mengedepankan rukyah. Di zaman modern kok rukyah, bukan hisab. Itu kan tradisional. Orang seperti itu tidak tahu, justru NU itu gudangnya ahli hisab. 

Demikian dinyatakan Ketua Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama KH A. Ghazali Masroeri di hadapan pengurus lajnah, banom, dan lembaga NU, serta para wartawan dari berbagai media, di gedung PBNU, (18/7) dengan tema Menyambut Ramadlan 1433 H.

MENGENAL HISAB RUKYAT DALAM PENENTUAN BULAN HIJRIYAH

Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menen tukan dimulainya awal bulan pada kalender Hijriyah.
Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang Nampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak  (konjungsi). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optic seperti teleskop.  Rukyat dilakukan setelah Matahari terbenam. Hilal hanya tampak setelah Matahari terbenam (maghrib), karena intensitas cahaya hilal sangat redup disbanding dengan cahaya Matahari, serta ukurannya sangat tipis. Apabila hilal terlihat, maka pada petang (maghrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru Hijriyah. Apabila hilal tidak terlihat maka awal bulan ditetapkan mulai maghrib hari berikutnya.

MEMBENTENGI DIRI dari PAHAM YANG MENYIMPANG


Menjaga agama sesuai dengan ketentuan pembawa syariat (Rasulullah SAW) pada dasarnya merupakan tanggung-jawab seluruh umat Islam, terutama para ulama dan cendekiawan muslim. Ini penting dalam rangka membentengi umat Islam secara keseluruhan dari ber-bagai paham yang rentan dan kerap menyusup di tengah khairul-ummah ini. Agama merupakan tuntunan yang tidak hanya bersifat personal tapi juga komunal. Kebodohan yang ada pada umat tak boleh dibiarkan. Harus ada upaya-upaya kongkret untuk memberikan pemahaman kepada mereka mengenai ajaran yang benar dan jauh dari segala bentuk penyimpangan.

TAHLILAN


Bahwa Tahlilan yang dikatakan sesat dan masuk neraka adalah Sunnah Sayyidina Muhammad Shalallahu alaihi Wasallam.

Ketika gugurnya sayyidina ja`far bin abu thalib dalam perang mu`tah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam terdiam dan berkata : “Wa’alaika assalam ya Ja’far”, mendengar ucapan tersebut para sahabat bertanya : “Apa yang terjadi wahai Rasulullah ?”, maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Ja’far bin Abi Thalib pamit dan mengucapkan salam kepadaku dan ia telah diebri dua sayap sebagai ganti dari kedua tangannya yang terpotong, dan ia sedang dibawa oleh para malaikat untuk menuju surga Allah subhanahu wata’ala” .

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
اِصْنَعُوْا لِآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا
“ Buatkanlah untuk keluarga Ja’far makanan”

TAWASSUTH, TAWAZUN, I'TIDAL, DAN TASAMUH

Karakter Tawassuth, Tawazun, I'tidal, dan Tasamuh dalam Aswaja (Ahlussunah Waljama'ah)

Ada tiga ciri utama ajaran Ahlussunnah wal Jamaah atau kita sebut dengan Aswaja yang selalu diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya:

Pertama, at-tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Ini disarikan dari firman Allah SWT:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً

Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Allah SWT menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian. (QS al-Baqarah: 143).